Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal

Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal karena kondisi kesehatan tertentu – Kontrasepsi atau KB hormonal cenderung lebih populer karena kemudahan penggunaan dan efektivitasnya. Namun tidak semua wanita diperbolehkan menggunakan jenis kontrasepsi ini. Siapa saja yang tidak diperbolehkan?

Kontrasepsi hormonal seperti pil KB dan suntik, menggunakan estrogen dan atau progestin untuk membantu mencegah ovulasi (pembuahan). Metode pengendalian kelahiran dengan hormon bersifat reversibel, sehingga wanita dapat hamil setelah menghentikan penggunaannya. Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal!

Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal

Tapi seperti kontrasepsi lainnya, kontrasepsi hormonal memiliki efek samping yang umum dan faktor risiko medis, terutama bagi wanita dengan kondisi tertentu. Sebelum memberikan satu jenis kontrasepsi, dokter atau bidan biasanya akan memeriksa dan menanyakan riwayat kesehatan wanita.

"wanita yang tak boleh pakai kb hormonal"

Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal! Wanita-wanita dengan kondisi berikut tidak diperbolehkan menggunakan kontrasepsi hormonal, seperti dilansir About.com, beberapa waktu lalu:

  1. Hamil
  2. Kurang dari 6 minggu pasca persalinan
  3. Usia lebih dari 35 tahun
  4. Perokok
  5. Penderita penyakit hati aktif atau punya riwayat tumor hati
  6. Penyandang diabetes
  7. Punya riwayat penyakit jantung, stroke dan tekanan darah tinggi
  8. Perdarahan vagina yang tidak bisa dijelaskan
  9. Penderita kanker payudara, punya riwayat kanker payudara atau mengalami pertumbuhan abnormal pada payudara
  10. Punya riwayat masalah pembekuan darah
  11. Penderira migraine
  12. Keberatan moral terhadap metode kontrasepsi hormonal.

Pil Kontrasepsi untuk Pria Makin Mendekati Kenyataan

Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal, Selama ini opsi kontrasepsi yang dianjurkan untuk pria masih sekitar kondom atau vasektomi saja. Namun dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan mungkin akan hadir pilihan kontrasepsi baru.

Alasannya karena studi gabungan oleh peneliti Inggris telah menemukan senyawa baru yang dapat mematikan fungsi sperma. Dengan memakai peptida khusus, ekor sperma bisa sengaja dibuat berhenti sehingga telur pada akhirnya tak bisa dibuahi.

Pemimpin studi Professor John Howl dari Wolverhampton University mengatakan tes pada sperma sapi dan manusia di laboratorium menunjukkan hasil yang memuaskan.

“Hasilnya mengejutkan dan hampir instan. Ketika Anda mengambil sperma yang sehat dan mencampurnya dengan senyawa kami, dalam beberapa menit sperma tidak bisa bergerak,” kata Prof John seperti dikutip dari Daily Mail.

Efek tak berlangsung permanen dan akan hilang sendiri dalam hitungan hari. Artinya seorang pria dapat menggunakan senyawa tersebut sebagai kontrasepsi cepat beberapa jam sebelum berinta.

Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal, Dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan tim berencana akan melakukan tes uji pada hewan hidup. Bila prosedur berjalan lancar tanpa hambatan maka diprediksi akan ada produk akhir siap di pasar pada tahun 2021.

Prof John mengatakan masih terlalu dini untuk melihat apakah akan jadi dalam bentuk pil, semprotan hidung, atau implan.

Anggapan Vasektomi Dituding Picu Kanker Prostat Terbukti Tidak Benar

Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal, Masih banyak pria enggan menjalani vasektomi dengan alasan takut kehilangan kejantanan atau tak bisa memuaskan istri lagi. Ada pula yang sampai ekstrem dengan mengira vasektomi dapat memicu kanker pada organ reproduksinya.

Menurut penelitian terbaru, hal ini tidak benar. Isu ini muncul setelah sebuah riset berskala besar dilakukan di tahun 2014. Riset ini menyebut, vasektomi mengakibatkan munculnya risiko kanker prostat sebesar 10 persen dan risiko kanker prostat yang fatal sebesar 20 persen.

Risiko ini dikhawatirkan muncul karena di dalam vasektomi terjadi prosedur pemotongan atau pengikatan saluran vas deferens sehingga sel sperma yang dilepaskan testis tidak bisa keluar. Kebetulan letak kelenjar prostat sangat berdekatan dengan saluran ini.

"kanker prostat"

Kemudian riset dilakukan American Cancer Society untuk memastikan kebenaran isu tersebut. Partisipan yang dilibatkan mencapai 363.000 orang, 42.000 di antaranya menjalani vasektomi. Usianya rata-rata di atas 40 tahun.

Wanita yang Tak Boleh Pakai KB Hormonal, Akan tetapi 7.400 partisipan dilaporkan meninggal akibat kanker prostat dalam kurun 30 tahun (lamanya studi dilakukan). Jumlah partisipan yang dilibatkan dalam studi ini sebenarnya sama besarnya dengan studi di tahun 2014, namun riset terbaru memberikan gambaran lebih tentang seberapa fatal risiko kanker akibat vasektomi.

Ini karena mereka melibatkan lebih banyak pasien yang meninggal karena kanker prostat, yaitu mencapai 7.000 orang, bila dibandingkan dengan jumlah pasien yang meninggal karena kanker prostat dan dilibatkan dalam riset di tahun 2014, hanya berkisar 800 orang.

“Secara keseluruhan terbukti bahwa vasektomi tidak meningkatkan risiko kanker prostat jenis apapun,” ungkap ketua tim peneliti, Dr Eric Jacobs seperti dilaporkan CNN.

Kalaupun muncul risiko kanker prostat, peneliti juga tidak menemukan adanya perbedaan pada mereka yang menjalani vasektomi maupun tidak. Lagipula risiko kanker ini sebenarnya dapat diturunkan dengan perubahan gaya hidup. Jacobs mengutarakan, bila seorang pria ingin terhindar dari kanker prostat, disarankan untuk menjaga berat badannya tetap ideal, dan berhenti merokok bila memiliki kebiasaan tersebut.

“Sebab obesitas dan merokok adalah dua faktor risiko terbesar dari kanker prostat yang paling agresif dan mematikan. Begitu juga dengan risiko penyakit lain,” urainya.

Tak usah jauh-jauh ke luar negeri, di Indonesia pun kondisinya tak jauh berbeda. Beberapa waktu lalu, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyebut vasektomi masih belum menjadi pilihan kontrasepsi yang populer di Indonesia.

“Data klien yang datang ke PKBI untuk kontrasepsi tahun 2014 itu, pil KB 1.481, suntik KB 2.623, implant 659, kondom 15.809, IUD 3.754, tubektomi 1.106 dan vasektomi 44 orang,” tutur Heny Widyaningrum, Program Officer untuk layanan Sexual Reproduction Health PKBI.

Alasannya pun beragam, namun yang paling sering diutarakan adalah anggapan bahwa vasektomi sama seperti dikebiri, bahkan memotong penis secara utuh. Sumber : detikhealth (lll/vit).

Add Comment